Kedepan, DKR Kota Depok Masih fokus Terkait Wabah-Wabah Penyakit

banner 468x60

DEPOK, LENSAJABAR.COM – Sebagai bagian dari masyarakat kota Depok, khususnya yang bergerak dengan dunia kesehatan, DKR Kota Depok menyampaikan bahwa pertama kalinya Covid-19 dengan pasien 1, 2 dan 3 ada di kota Depok. Namun, saat ini melihat kenyataan di lapangan masyarakat sudah beraktifitas kembali normal, dari mulai jalanan macet, pasar-pasar tradisional dan modern (mall), restoran, kafe-kafe sudah ramai, sudah waktunya pemerintah mencabut status pandemi dan tidak ada alasan lagi pemerintah untuk meneruskan status pandemi ini.

“Selama masa pandemi masih banyak peraturan, contoh di pasar tumpah, alasan pemerintah untuk mencegah Covid-19, padahal masyarakatnya itu sudah di vaksin. Kalau masih dilarang-larang apa gunanya vaksin,” ujar Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kota Depok, Roy Pangharapan, Jum’at (6/5/2022) melalui saluran seluler.

Saat ini katanya, kesadaran masyarakat juga sudah mulai tumbuh, artinya kalau sakit ya dirumah. Dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sudah jadi kebiasaan baik. Apalagi, mengutip dari pernyataan Menteri Kesehatan, bahwa Herd Immunity sudah tercapai hampir 90% melalui vaksin.

Tanggapan DKR kota Depok terkait merebaknya kasus Hepatitis, Roy mengatakan, bahwasanya pemerintah sebelum melakukan pemberitaan-pemberitaan, harus dipastikan terlebih dahulu dan memang diakui di luar negeri juga sudah merebak.

“Kami harap, masyarakat harus hidup sehat, bersih dan tingkatkan imunitas (kekebalan tubuh, red) yakni dengan PHBS. Dan ini salah satunya hikmah pandemi, kesadaran masyarakat sudah mulai meningkat berkaitan dengan hidup sehat ini,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, DKR kota Depok sudah memberikan antisipasi jalan keluar. Waktu kasus pertama DKR mengajurkan meminum ramuan herbal 131 (satu jari Jahe, tiga batang sereh, Slsatu jari Lengkuas).

“DKR sudah membuktikan kembali ke alam untuk antisipasi dari virus Covid-19. Selain itu juga, solusi bagi masyarakat yang sudah terlanjur vaksin bukan virus utuh atau yang sudah booster, yakni ramuan Sapu Jagat 1317131 terdiri dari 1 jari Kencur, 3 batang Sereh dan 1 jari Laos. Lalu ada yang lain seperti 7 bilah peka (1 jari Kunir Putih/Temu Mangga, 3 siung Bawang Merah dan 1 sendok makan kulit Pulowaras,” jelasnya.

Dikesempatan yang sama, terkait Kartu Indonesia Sehat (KIS), banyak masyarakat yang mengajukan, akan tetapi pemerintah kota Depok masih menahan/ belum membuka pendaftaran lagi.

“Kami akui, pengawasan di RS pemerintah sudah berjalan baik, namun RS swasta masih kadang terdengar diharuskan menebus obat, kasus lama yang mungkin sudah membudaya,” imbuhnya.

Ditambahkan, program kedepannya bagi DKR Kota Depok, masih seputar/ konsentrasi terkait wabah-wabah penyakit. DKR kota Depok akan memberikan edukasi, karena yang dibutuhkan masyarakat itu adalah edukasi dan solusi. Bukan semata-mata hanya mengingatkan saja.
Edukasi sangat penting dan terus berlanjut sampai masyarakat bisa mandiri agar tidak ketakutan atau panik menghadapi wabah apapun yang akan terjadi didepan mata kita ini.

“DKR membuka diri dan mengajak kepada siapapun, termasuk pemerintah kota Depok, karena memang DKR lahir dari pemerintah, yakni ‘rahim’ Departemen Kesehatan. Oleh karenanya, DKR siap berkolaborasi, apalagi diawal pandemi, DKR Kota Depok yang pertama kali diberi kesempatan dari Dinas Kesehatan kota Depok untuk membantu menyampaikan edukasi/sambung lidah kepada masyarakat,” paparnya.

Reporter : Is Idris
Editor : Redaksi

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.