PURWAKARTA, LENSAJABAR.COM — Potensi yang dimiliki oleh Desa Cikaobandung Kecamatan Jatiluhur memang cukup menjanjikan. Selain terdapat sungai Citarum dan Cikao yang membentang luas, terdapat pula produk yang menjadi ciri khas tersendiri.
Produk yang menjadi ciri khas tersebut yaitu keripik gadung dan wajit cau. Produk tersebut di proses secara tradisional dan dikemas dengan masih sederhana yaitu menggunakan kantung kresek tanpa adanya logo. Sangat disayangkan saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keripik gadung dan wajit cau sebagai makanan khas Desa Cikao Bandung.
Melvin Ariesta (20) Koordinator Bidang Ekonomi KKN Universitas Singaperbangsa Karawang beserta dengan anggotanya berinisiatif membuat sebuah progam pengembangan usaha pada sentra UMKM Keripik Gadung dan Wajit Cau. “Kami dari Bidang Ekonomi melakukan pengembangan usaha dengan membuat inovasi rasa pada keripik gadung yang terdiri dari rasa balado, jagung manis, sapi panggang, pedas manis. Karena hasil dari melalui pendekatan dengan pemilik usaha, keripik gadung hanya memiliki rasa original dan beberapa masih banyak yang dijual mentahan dan belum mempunyai logo. Maka kami berupaya untuk membuat logo serta kemasan pada keripik gadung dan wajit cau dengan tujuan agar mampu meningkatkan nilai jual produk dan semakin menarik hingga banyak diminati masyarakat luas”. Ungkapnya kepada redaksi lensajabar beberapa waktu yang lalu.
Sekretaris Bidang Ekonomi Dewi Kurnia menambahkan, bahwa pengembangan keripik gadung dan wajit cau tersebut memiliki beberapa tahap yang harus dilakukan. “Dalam pengembangan keripik gadung dan wajit cau, langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan pendekatan kepada UMKM Desa Cikaobandung khususnya keripik gadung dan wajit cau. Yaitu dengan membantu proses pembuatannya sampai menjadi keripik gadung. Antusias pemilik UMKM keripik gadung cukup positif dengan memberikan kesempatan kepada kami dalam membantu proses pembuatannya dari gadung sampai menjadi keripik gadung. Adapun langkah pertama dalam membuat keripik gadung yaitu proses penyerutan gadung menjadi bentuk bulat dan tipis. Kedua, proses pengabuan dengan abu kayu. Ketiga, proses penjemuran selama 1-2 hari. Kemudian proses keempat perendaman di air yang mengalir selama sehari. Setelah itu, proses pembersihan dan dibumbui lalu dikukus selama 1 jam. Langkah terakhir dijemur kembali hingga kering. Setelah itu, gadung siap dijual mentah ataupun digoreng”. Paparnya
Dessy Nur Kholifah sebagai penanggung jawab progam kerja pengembangan usaha pada sentra UMKM keripik gadung dan wajit cau, mengungkapkan, bahwa produk Desa Cikaobandung tersebut harus mencapai pasaran dengan jagkauan luas. “Pengembangan keripik gadung dan wajit cau ini dilakukan dengan melakukan promosi-promosi disetiap media sosial dengan tujuan keripik gadung dan wajit cau dapat dikenal oleh masyarakat luas baik didalam Purwakarta/luar Purwakarta sebagai produk khas Desa Cikaobandung”. Ungkapnya.
Besar harapan kami pengembangan keripik gadung dan wajit cau ini dapat menjadikan sebuah ciri khas dari Desa Cikaobandung dan mampu meningkatkan penjualannya hingga keluar Kota bahkan bisa di Ekspor ke Luar Negeri. (Red).






