Jakarta, LENSAJABAR.COM – Banyak prestasi, keunggulan dan peran serta karya dari Komunitas Seni Jatiwangi Art Factory (JAF). Baru-baru ini Komunitas Seni JAF kembali menunjukkan peran aktifnya dalam membangun hubungan antara seni, masyarakat dan institusi publik, yakni memberikan apresiasi khusus kepada jajaran Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polsek Jatiwangi Polres Majalengka Polda Jabar, atas dedikasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa pendekatan humanis melalui seni dan budaya mampu mempererat hubungan antara semua elemen masyarakat sipil dan institusi kepolisian.
“Jatiwangi Art Factory, melalui karya terracottanya, kembali menegaskan bahwa tanah liat bukan hanya sekadar bahan kerajinan, tetapi juga media ekspresi sosial yang mampu menjembatani berbagai lapisan kehidupan,” ujar Ginggi pendiri Komunitas Seni Jatiwangi Art Factory (JAF).
Ginggi menjelaskan Komunitas Seni JAF pernah mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo, Gubernur Ahmad Heryawan serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Sebagai komunitas yang fokus pada seni dan budaya lokal, JAF aktif mengadakan pameran, residensi seniman, dan pertunjukan, seperti Festival Rampak Genteng. JAF juga memiliki program Festival Residensi, Festival Video Residensi dan Festival Musik Keramik.
Komunitas Seni JAF yang berada di area perdesaan yang didominasi oleh pabrik genting (Jebor) uni tepatnya berlokasi di Jalan Makmur No. 604, Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sudah 20 tahun tepatnya 27 September 2005 ini berdiri bersifat mandiri, sebuah organisasi nirlaba.
“Event Festival Rampak Genteng digelar 3 tahun sekali. Dan rencananya tahun depan akan digelar kembali,” ujar Ginggi melalui jaringan WhatsApp kepada Lensajabar.com, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan JAF katanya, tidak hanya berpusat pada kreasi pembuatan produk dari tanah liat saja, juga berbagai pertunjukan seni dan budaya yang memang menjadi tujuan dibentuknya JAF
Ginggi menambahkan, Komunitas Seni JAF didirikan di Jatiwangi tahun 2005. JAF ingin menjadikan genteng bukan hanya komoditas tapi menjadi indentitas.
“Kami melihat tanah tidak hanya sebagai material/bahan saja, namun juga sebagai lahan dan gagasan,” ungkapnya.
Lebih lanjut katanya, JAF juga mengajak masyarakat untuk lebih berkreasi lagi menggunakan media tanah liat selain genteng.
Masih kata Ginggi, keberadaan Komunitas Seni JAF ini sering dikunjungi oleh para peminat dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Ada sekitar 50 negara peminat yang pernah berkunjung ke kami (JAF). Selain itu, pengurus maupun anggota komunitas JAF telah berkunjung dalam rangka menghadiri undangan ke berbagai negara di 5 benua,” jelas Ginggi.
Seperti diketahui, JAF mengkampanyekan penggunaan produk material lokal yang secara teknologi dan modal bisa dikerjakan kalangan UMKM untuk bisa ambil bagian dalam pembangunan nasional, sehingga dampak pembangunan bisa dirasakan rakyat menengah bawah. (rmh)






