JAKARTA, LENSAJABAR.COM — Selain sebagai institusi perguruan tinggi, Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA), juga konsen dalam memelihara dan mengembangkan budaya Nusantara. Salah satunya dengan menggelar International Conference on Folklore, Langue, Education and Exhibition (ICOFLEX) I Tahun 2019.
“ICOFLEX sebagai salahsatu Konferensi Budaya, Cerita Rakyat, Bahasa, Sosial dan Pendidikan yang digelar Unindra pada Rabu 1 Agustus 2019. Event ini membahas beberapa topik hasil kajian akademik, termasuk juga untuk menaikkan popularitas Unindra agar sejajar dengan perguruan tinggi diluar negeri serta menjaganya agar tetap eksis. Apalagi di era globalisasi seperti yang sekarang kita hadapi,” ujar Rektor Unindra, Prof Dr H Sumaryoto, kepada wartawan di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan.
Diungkapkan, event yang mengangkat tema “Expanding the possibilities of humanities and social studies, Bridging the past, present and the future” juga merupakan amanat dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, dimana kita harus membangun kerjasama dengan negara lain, yakni memperluas kemungkinan belajar Cerita Rakyat dan Sosial menjembatani masa lalu, masa depan dan masa kini, karena Cerita Rakyat merupakan bentuk kajian Sastra dan pendidikan.
“Cerita Rakyat berkembang bukan saja di Indonesia, namun juga di negara-negara lain, disinilah kita akan lakukan kajian-kajian akademik, untuk nantinya kita lestarikan dan kembangkan bersama. Kita tahu mesti kita menggunakan cerita dari Buku Mahabarata dan Sutasoma, namun dalam penampilan cerita rakyat antar negara sangat berbeda satu dengan yang lain, ini akan jadi kajian Sastra yang berakar dari akar Budaya masing-masing negara, yang harus dilestarikan dan dikembangkan,” jelas rektor.
Masih menurutnya, konferensi internasional kali ini diikuti oleh para Peneliti, Akademisi, Praktisi, Aktivis juga para Mahasiswa maupun kelompok lain, yang memiliki minat dalam masalah Budaya, dalam kerangka Seni, Industri Kreatif, Ekonomi, Teknologi, Pendidikan dan Antropologi.
“Konferensi ICOFLEX 2019 ini menampilkan pembicara kunci, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr Hilmar Farid, Ph.D, juga Dr Aone Van Engelenhoven Leiden University the Netherlands, Dr Gautam Kumar Jha Jawaharlal Behru University India, Dr Winny Gunarti, W.W.M.Ds (UNINDRA), Harry B Santoso Ph.D (Universitas Indonesia) serta para akademisi dari dalam dan luar negri lainnya,” ucapnya.
Lebih lanjut Sumaryoto menambahkan bahwa persiapan Konferensi internasional ICOFLEX 2019 ini digelar dengan persiapan-persiapan yang matang dan final, sehingga 6 negara akan hadir seperti dari Netherlands, Brunei, Kanada, India dan Bulgaria termasuk Indonesia. Ini adalah upaya peningkatan kerjasama dengan lembaga pendidikan dari negara lain, yang bisa ditindaklanjuti dengan kerjasama pertukaran dosen, mahasiswa dan kerjasama bidang penelitian.
“Ada beberapa bidang yang dibahas dalam konferensi internasional ini, hasilnya akan ada rekomendasi-rekomendasi baik untuk kita rekomendasikan bagi kemajuan pendidikan di Unindra serta Universitas lain, serta kita sumbangkan ke Pemerintah,” katanya lagi.
Konferensi internasional budaya, Sosial, Bahasa dan Pendidikan ini Unindra juga menjadi tuan rumah pameran Animasi, Buku ilustrasi, dan banyak bentuk karya seni lainnya serta dalam Melestarikan dan Mengkomunikasikan Warisan Budaya Takbenda, disela ICOFLEX 2019 ini, Unindra juga akan mempergelarkan beberapa tari-tarian dan kesenian lain didepan peserta.
Sebagai informasi, hingga saat ini sudah ada 233 artikel penelitian yang dikumpulkan dari 178 Universitas negeri dan swasta dari 18 Provinsi di Indonesia.(Is. Idris).
